SAYA INGIN MENJADI GURU YANG RENDAH HATI

Saya tumbuh dalam sebuah keluarga yang gemar dengan julukan. Kakek saya dipanggil “Coon” (rakun). Seseorang memanggil ayah saya “Wolf” (serigala).

Lalu paman saya, “Duck” (bebek), memanggil anak laki-lakinya “Bear” (beruang).

Mulai terdengar seperti kebun binatang, bukan? Memang demikian biasanya saat semua berkumpul.

Guru kita juga memberi apa yang kita sebut dengan istilah julukan kepada beberapa murid-Nya.

Yang menarik perhatian saya adalah nama julukan untuk Yakobus dan Yohanes.

Yesus menyebut mereka “Boanerges” yang artinya “anak-anak guruh” (Markus 3:17).

Diperkirakan nama itu diberikan karena sifat mereka yang berapi-api dan menuruti kata hati. Yakobus dan Yohaneslah yang siap untuk memberi perintah supaya api turun dari langit dan menghancurkan orang-orang yang tidak mau menerima Yesus.

Namun, Yesus menegur mereka (Lukas 9:51-56). Roh yang seperti itu juga sering kali mengarakterisasi sebagian dari kita yang menyebut diri pemenang jiwa bagi Kristus.

Berapa banyak dari kita yang akan Yesus sebut sebagai “Anak-Anak Guruh”? Berapa kali usaha-usaha kita menyaksikan Kristus kurang menunjukkan sikap rendah hati kepada orang lain yang ingat betul akan ruang dosa yang dulu mereka singgahi?

Saya ingat pada seorang pria yang mendengarkan khotbah seorang pendeta selama berminggu-minggu namun tidak pernah menaati Injil.

Kemudian jemaat mengganti pendetanya dan tidak lama kemudian pria itu menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

Seseorang bertanya, apa yang akhirnya membuat dia berubah. Dia menjawab, “Pendeta yang dahulu mengatakan bahwa saya akan masuk neraka dan dia tampaknya senang dengan hal itu.

Ketika pendeta yang baru datang, dia mengatakan kepada saya bahwa saya juga akan masuk neraka, tetapi saya tahu bahwa hatinya sedih.” Kita pasti tumbuh di dalam Kristus bila hati kita sedih dan menangis melihat tetangga kita berada dalam dosa.

Suara ilahi dapat didengar dalam suara Guru ketika Ia meratapi Yerusalem dan berkata, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!

Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Matius 23:37).

Usaha-usaha Rasul Paulus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dipenuhi dengan air mata. Untuk para tua-tua di Efesus, Paulus berkata, “… ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata” (Kisah Para Rasul 20:31).

Ketika Paulus menulis surat untuk gereja di Korintus, dia berkata, “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (2 Korintus 2:4).

Bayangkan tinta yang luntur karena air mata Paulus yang jatuh ke perkamen di mana ia menulis!

Ada yang berkata, “Orang lain tidak akan peduli akan seberapa banyak yang Anda tahu sampai mereka tahu betapa Anda sangat peduli kepada mereka.” Amin! Kiranya Tuhan menolong kita untuk peduli.

Kita tumbuh di dalam Kristus ketika dalam segenap usaha kita untuk menyelamatkan jiwa, kita ingat bahwa “… dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci” (Titus 3:3).

Tak diragukan, orang-orang Kristen di Korintus rendah hati ketika mereka memikirkan orang-orang yang masih dalam dosa dan Paulus menyebutkan bahwa “beberapa dari mereka dahulu juga berdosa” (1 Korintus 6:11).

Dan Paulus sendiri tidak pernah lupa bahwa ketika dia melihat hal ini, dia dulunya adalah pemimpin orang-orang berdosa (1 Timotius 1:15). Jika seseorang berkata kepada Paulus, “Saya sudah melakukan sesuatu yang sangat buruk dalam hidup saya.

Yesus tidak akan pernah mengampuni saya”, ia dapat berkata, “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya …” (1 Timotius 1:16).

Kita bertumbuh di dalam Kristus ketika indra kita cukup peka untuk menyadari bahwa kita harus melayani orang lain dengan berbagai cara. Ada berbagai macam kondisi hati.

Beberapa orang sangat tidak punya perasaan dan keras hati, sehingga teguran yang sangat keras mungkin diperlukan. Yang lainnya mungkin berdosa, tetapi hati mereka masih bisa menerima teguran yang lembut. Yesus jelas melakukan pembedaan.

Teguran sedahsyat ledakan dinamit dilontarkan Yesus saat untuk terakhir kalinya ia mencoba menghancurkan kerasnya hati orang-orang Farisi yang ada dalam dosa. Kepada orang-orang itu, yang hampir masuk dalam bahaya neraka,

Yesus berkata, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri” (Matius 23:15).

Sebaliknya, perhatikan pendekatan-Nya yang lembut kepada wanita yang berada di sumur (Yohanes 4). Dengan sangat lembut, Dia berkata kepadanya ketika tak ada seorang pun yang memerhatikannya. Karena tahu bahwa wanita itu hidup dalam perzinahan, Yesus dengan lembut menyatakan kebenaran dan dengan tegas meyakinkan dia bahwa Dia tahu dosa-dosanya (Yohanes 4:16-18).

Wanita itu menjadi percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat dunia. Hatinya harus dijangkau, tetapi tidak perlu dijangkau dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan Yesus terhadap orang Farisi.

Yesus melakukan pembedaan. Kita pun juga harus demikian. Kiranya Tuhan menganugerahkan hikmat kepada kita.

Kita telah tumbuh di dalam Kristus ketika kita memandang mereka yang berada di dalam dosa sebagai korban dari musuh, bukan musuh. Setan telah menipu mereka, sama seperti kita dulu juga tertipu.

Kita harus bersabar ketika kita berjuang untuk menghancurkan benteng Setan yang ada di hati mereka.

Kita tidak boleh frustrasi dalam usaha-usaha kita dan kita harus percaya bahwa firman Tuhan memiliki kekuatan untuk menembus hati mereka bahkan di saat kita tertidur (Markus 4:26-29).

Tidak ada petani yang duduk semalaman mengomeli benih yang telah dia tanam hari itu. Omelannya tidak akan menghasilkan apa-apa. Dia telah menanamnya dan menyiraminya. Pertumbuhannya ada di tangan Tuhan (1 Korintus 3:6-7).

Yang dikatakan Paulus sangat tepat untuk situasi ini, “Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.

Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” (2 Timotius 2:24-26) Ya, saat saya sudah dewasa nanti, saya ingin menjadi guru yang rendah hati.

Kiranya Pribadi yang dapat melakukan segalanya yang melebihi apa yang kita minta atau pikirkan, memberi kita kedewasaan di dalam Kristus dan memakai kita dengan lebih efektif lagi untuk memenangkan orang lain bagi Kristus. (t/Ratri)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari: Nama situs: Churches Dot Net Judul asli artikel: I Want To Be A Humble Teacher Penulis: Jeff May

Explore posts in the same categories: KESAKSIAN YANG MENGUATKAN IMAN KITA

Tags: ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: