Archive for the ‘KESAKSIAN YANG MENGUATKAN IMAN KITA’ category

Apakah Anda Tuhan?

September 18, 2010

Di suatu desa yang sepi di Brasil, pada suatu malam yang sedang dilanda hujan lebat, ada seorang ibu yang akan melahirkan.

Tapi di sampingnya hanya ada seorang bocah berumur 5 tahun mendampinginya.

Dalam keadaan darurat, nyonya ini menelepon ke kantor polisi.

Tapi oleh karena badai hujan itu telah mengakibatkan banjir dan longsor, mobil ambulance dan regu penolong sudah berangkat semuanya, hanya tinggal seorang polisi penjaga pos saja yang tersisa.

Polisi itu pun terpaksa menelepon ke rumah ketua organisasi massa lokal, dan memohon bantuannya.

Ketua organisasi itu segera menyanggupi, dan mengantarkan sendiri ibu itu ke rumah sakit.

Persalinan si ibu berjalan dengan lancar, ibu dan anak selamat.

Saat itu baru terpikir oleh sang ketua bahwa di rumah si ibu yang bersalin itu masih ada seorang bocah kecil, yang harus segera dijemput.

Dia lalu memakai HP nya menelepon ke salah seorang anggotanya yang paling tidak punya kepedu lia n dan juga merupakan orang terakhir yang masih belum ada tugas keluar, mengharapkan bantuannya untuk menolong bocah yang masih terperangkap.

“Orang terakhir ini” keluar dari dalam selimut hangatnya, dengan bermalas-malasan ia mengemudikan mobil menuju ke rumah bocah itu, di sepanjang perjalanan sambil bersiul ia juga mengutuk cuaca yang buruk itu.

Setelah mengalami berbagai macam rintangan, akhirnya ia dapat menemukan rumah bocah itu, dia menggendong bocah itu masuk ke dalam mobil.

Setelah masuk ke dalam mobil, bocah itu terus memandangi ‘orang terakhir’ ini, mendadak si bocah membuka mulut, “Tuan, apakah kamu Tuhan?”

‘Orang terakhir’ ini kebingungan, ibarat seorang yang kehilangan kepalanya sendiri, sambil berpikir mungkin bocah ini mendapat gangguan syaraf setelah mengalami ketakutan tadi.

Setelah memuntahkan permen karet dari mulutnya dia kemudian bertanya kembali dengan agak tergagap, “Adik kecil, mengapa kamu katakan saya adalah Tuhan?”

Bocah lelaki itu berkata, “Ketika ibu saya baru akan keluar rumah, dia berpesan agar saya berani tinggal di rumah sendirian.

Dia juga bilang bahwa saat ini hanyalah Tuhan yang bisa menolong kita.”

Mendengar perkataan ini, muka orang ini segera memerah dari wajah hingga ke ujung kakinya.

Dia merasa malu sekali, dengan sebelah tangannya ia meraba-raba kepala anak ini, dengan nada penuh kasih dia berkata pada si bocah, “Saya bukan Tuhan, saya adalah temanmu!”

Sama sekali tak pernah terpikir olehnya bahwa suatu hari kelak dia akan menjadi Tuhan di mata orang lain.

Dia mendadak merasakan bahwa ekspresi polos dari wajah bocah itu telah menyulut lampu hati yang ada di dalam dirinya — yaitu lampu menuju kebaikan

———— ——— ——— ——— ————– ——— —-

Tuhan bisa hadir dalam diri kita untuk menolong orang lain, siapa dan seperti apapun keadaan kita hari ini.

Dan pada saat itu kita akan merasa bahagia dan merasa hidup kita lebih berarti. Karena itulah hakekat hidup yang sebenarnya: Bertolong – tolongan !

(Bertolong – tolonganlah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus …….. ( Galatia 6:2)

JJJ

Salam Kasih,

Yesusku, tabib yang ajaib

June 20, 2009

Yesusku, tabib yang ajaib
Kesaksian Ibu Ketty Ligianto – Ujung Pandang

Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Pada awal tahun 1999 saya telah menyaksikan di kebaktian kaum Wanita
bahwa, anak saya mengalami kecelakaan tetapi selamat berkat
pertolongan Tuhan dan saya tidak merasa takut waktu mendengar kabar
dari Rumah sakit. Saya hanya berdoa mengucap syukur berterima kasih
kepada Tuhan sebab saya sangat yakin Tuhan ada bersama anak saya.
Tuhan pasti sudah menolong dia, karena satu minggu sebelum anak saya
kecelakaan, Tuhan sudah menyatakan kemuliaanNya yang indah. Sewaktu
saya berdoa saya melihat malaikat-malaikat kecil dengan memakai baju
putih meniup sangkakala bergandengan tangan, terbang di atas atap
rumah saya berputar-putar dan baju mereka terbang ditiup angin.
Penglihatan ini sangat indah dan menguatkan saya. Waktu berdoa itu
saya hanya mengucap syukur dan berterima kasih berulang-ulang dan
Tuhan menyatakan kemuliaanNya.

Pada tanggal 31 Januari 1999, kembali waktu saya berdoa mau tidur
malam, begitu saya tutup mata, untuk kesekian kalinya Tuhan
menyatakan kemuliaanNya. Saya dikaruniai penglihatan secara rohani,
di atas kepala atapnya (plafond) dalam kamar saya terbuka seperti
pintu dan ada cahaya yang sangat terang memancar ke tubuh saya yang
lagi berdoa. Saya tidak bisa tidur, kembali mengucap syukur berterima
kasih kepada Tuhan untuk penyataan itu, begitu baiknya Tuhan kepada
saya pribadi.

Begitu juga, kalau akan ada sesuatu yang akan terjadi, Tuhan sudah
ingatkan lebih dahulu kepada saya melalui penglihatan atau mimpi-
mimpi. Sungguh ajaib Tuhanku.

Pada bulan Maret saya ada mencoba minum obat pelangsing, tetapi pada
hari ke empat saya minum, perut saya mulai terasa sakit di sebelah
kiri. Saya berhenti minum obat ini, saya ke dokter kandungan, dan
yang ada dalam pikiran saya pasti ada “cista” di perut ini yang sudah
pecah atau bertambah besar. Apa yang saya pikirkan bukan itu yang
Tuhan berikan. Sebab apa yang tidak pernah kita duga, itulah yang
Tuhan berikan.

Begini awal mula penyakit saya. Pada tahun 1994 akhir saya datang
bulan dan selama menstruasi perut ini sangat sakit sampai sebelah
kiri. Setelah ke dokter, dokter katakan, ada cista di perut sebelah
kiri (hasil USG) hanya dengan operasi baru sembuh. saya hanya
berserah pada Tuhan. Bulan Juli 1995, saya sekeluarga jalan-jalan ke
Singapura. Saya cek up kembali di dokter kandungan, dan setelah di
USG, ternyata cista itu masih ada. Dokter di sana menyarankan saya
harus di haporoskopi yaitu : dokter akan membuat lubang 3 buah di
perut dan melalui sinar laser penyakit dalam perut itu akan
dihancurkan.

Malamnya saya berdoa, Tuhan, Engkau yang akan menghancurkan penyakit
ini dengan DarahMu. Besok hari saya putuskan tidak mau kembali ke
dokter. Saya datang sekeluarga ke Singapura untuk berlibur bukan
untuk tinggal di Rumah Sakit. Saya percaya Yesus selalu ada bersama
saya. Kembali pada tahun 1996, saya cek up kesehatan di Dokter
spesialis penyakit dalam dan hasil USG kembali menunjukkan penyakit
ini masih ada, dokter bilang kenapa tidak di operasi saja ?

Saya diam, saya tidak menjawab., sebab masih ada harapan bagi saya
bahwa Yesus sanggup menolongku. MujizatNya selalu dinyatakan kepada
keluarga saya.

Bulan Juni 1999, ibu saya menelepon saya dari Manado dan mengatakan
bahwa ada teman-temannya yang berdoa bersama-sama ibu saya dan dalam
doa itu ada nubuatan tentang saya, katanya saya di Ujung Pandang lagi
sakit perut sebab ada cista dalam perut saya tetapi Tuhan akan
menyembuhkan katanya. Hanya dengan iman saya aminkan nubuatan ini
kalau benar dari Tuhan. Kalau cobaan ini ada rencana Tuhan saya
menerimanya walau sakit, saya rela menderita bersama Yesus. Saya
hanya mengucap syukur dan berterima kasih atas cobaan ini. Saya mulai
mengingat-ingat Firman Tuhan yang pernah saya baca bahwa Tuhan akan
melalukan segala penyakit bagi orang yang percaya dan melakukan
FirmanNya. Tuhan tidak akan membiarkan kita tergeletak, tanganNya
pasti akan menopang. Dan Tuhan sudah memberi kuasa kepada kita dan
kita akan melakukan perkara-perkara besar, bahkan yang lebih besar
daripada yang sudah pernah Tuhan lakukan.

Puji Tuhan. Selama mengiring Tuhan banyak-banyak masalah dan cobaan
yang datang pada keluarga saya tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan
kami. Tuhan selalu menjawab doa-doa saya.

Banyak sekali mujizat yang Tuhan adakan pada keluarga saya. BerkatNya
melimpah, baik jasmani terutama berkat-berkat rohani. Tuhan sangat
baik, begitu dalam kasihNya pada keluargaku, tanganNya tidak kurang
panjang untuk menolong dan menjamah setiap masalah dan pencobaan yang
datang.

Saya sangat yakin Tuhan tidak akan membiarkan keluargaku dipermalukan
karena mengiring Dia. Saya selalu berserah kepada Tuhan, minta ampun
dosa salah dan kekurangan saya dengan hati yang hancur. Saya menagih
janji Tuhan yang terdapat di dalam Yohanes 14:14, “Jika kamu meminta
sesuatu kepadaKu, Aku akan melakukannya.” Saya mengatakan
kepadaNya: “Tuhan, cobaan ini berat, rencanaMu yang jadi Ya Tuhan,
sebab rencanaMu, indah, Engkau menjanjikan masa depan yang penuh
harapan.”

Dunia boleh merancangkan kejahatan tetapi Tuhan selalu dan selalu
merancangkan kebaikan. Saya percaya kepada janji-janji Tuhan. Kadang-
kadang sambil memasak atau bila ada di mana saja saya suka berbicara
dengan Tuhan. Saya juga berkata kepada iblis, “Hai iblis, engkau di
bawah telapak kakiku, engkau tidak berhak mengganggu kesehatan saya
sebab saya ini adalah milik Tuhan Yesus. Saya tumpang tangan diperut
yang sakit, saya percaya Tuhan akan menyatakan mujizatNya.

Menjadi kekuatan saya selalu kalau berada dalam masalah atau cobaan,
saya berdoa dan minta jawaban dari Firman Tuhan. Dan selalu begitu
membuka Alkitab, Tuhan langsung tunjukkan ayat-ayat yang indah yang
menguatkan. Kali ini yang saya dapat baca yaitu dalam Kitab Daniel
2:19,20. Daniel mendapat penglihatan dan memuji-muji Allah. Saya
terus ingat penglihatan waktu yang lalu, saya langsung memuji-muji
Tuhan. Rasanya cobaan ini menjadi ringan kalau bersama Tuhan. Tuhan
memberi hikmat dan pengertian pada saya.

Pada tanggal 19 Juli 1999 saya ke dokter kandungan. Saya katakan
kepada dokter, cista ini kambuh lagi. Saya sering sakit perut. Dokter
bilang operasi saja, angkat semua alat-alat reproduksi dan
menyarankan saya USG. Waktu pagi-pagi menunggu di ruang tunggu,
sementara menunggu giliran untuk di foto, saya duduk sambil menyanyi-
nyanyi dalam hati, saya mengucap syukur terus kepada Tuhan, dan
heran, saat itu saya merasa cobaan itu begitu ringan. Haleluya, Puji
bagiMu Tuhan.

Apapun yang dokter akan katakan sebentar, saya percayaTuhan adalah
tabib di atas segala tabib, tidak ada yang mustahil bagiNya. Dengan
iman saya yakin Tuhan Yesus sudah mengoperasiku. Saya akan mendengar
apapun yang akan dikatakan dokter dengan hati yang tenang, sebab air
sungai yang tenang dari surga sedang mengalir didalam hatiku.

Saya begitu tenang, tidak ada lagi ketakutan. Saya masih ketawa-
ketawa dengan suami saya. Dan biasanya kalau sementara USG, dokter
akan berbicara mengenai hasil foto yang sementara dia lakukan. Tetapi
kali ini dokter hanya berkata, anaknya ada berapa ? Oh kamu gemuk
sebab sudah lama suntik-suntik KB. Saya hanya menjawab iya. Saya juga
tidak berani bertanya, ada apa dilayar monitor USG itu ?

Sorenya, saya, suami dan anak-anak kembali ke dokter kandungan itu
untuk membawa hasil USG tadi pagi. Karena anak saya ingin tahu, dia
membuka foto-foto itu dan katakan, “mamie, semua normal, tidak ada
apa-apa mamie.” Saya tidak mendengarnya, sebab pikiran saya hanya
tertuju kepada dokter yang akan menerangkan hasil USG itu. Waktu saya
dan suami di suruh masuk ke ruang periksa dokter dengan suara yang
nyaring berkata, “Tidak ada lagi cista, ini, lihat foto ini, sudah
hilang penyakit itu.” Saat itu, air mata ini tidak terasa langsung
mengalir. Puji Tuhan ! Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Saya
katakan kepada dokter, “Saya sudah yakin, Tuhan pasti adakan
mujizatNya.

Sungguh ajaib Yesusku. Saya juga menyaksikan pada dokter mujizat-
mujizat yang sudah pernah Tuhan nyatakan pada waktu-waktu yang lalu
pada keluargaku. Lidah ini rasanya tidak mau berhenti mengucap syukur
kepada Tuhan. Memang benar, Tuhan hanya sejauh doa kita. Dengan rajin
berdoa, mencari wajahNya, dan yakin iman dapat mengalahkan segala
perkara, pasti Tuhan Yesus menolong. Hari-hariku terasa sangat indah
dan penuh sukacita berjalan bersama Tuhan. Semua indah pada waktunya.

THE PASSION OF CHRIST IN SCRIPTURE AND HISTORY

June 20, 2009

has just come off the press. It has an attractive four-colors laminated cover, and is written in a simple, nontechnical language that the average reader can understand.

Millions of viewers of Mel Gibson’s THE PASSION OF THE CHRIST are led to believe that the movie faithfully portrays the Gospels’ accounts of Christ’s Passion. This popular perception is fostered not only by Gibson’s claims regarding the biblical accuracy of his movie, but also by the endorsements of popular preachers, who promote the movie as a biblical masterpiece.

These claims are grossly inaccurate. This investigation, as well as studies done by respected Catholic and Protestant scholars, clearly shows that The Passion of the Christ is strictly a Catholic movie, largely based on Catholic legends and superstitious beliefs foreign to the Bible. Distinctive Catholic beliefs are embedded in the movie.

Unfortunately, most moviegoers do not have the knowledge necessary to distinguish between biblical facts about The Passion and superstitious Catholic legends. They respond to the movie emotionally rather than rationally. It is this concern that motivated the author to write this book.

This book has two major objectives. The first is to provide the information necessary to help people distinguish between what is biblical and what is unbiblical in Gibson’s portrayal of Christ’s Passion.

The second objective is to help Christians of all persuasions more fully appreciate the centrality, necessity, and achievements of the Cross. May a thoughtful reading of this book lead many people to appreciate more fully the Passion of Christ as His passionate love to redeem us from the penalty (Gal 3:13) and the power of sin (Titus 2:14) through His sacrificial death.

A massive distribution of this timely book can help countless people who have viewed Gibson’s The Passion of the Christ, to recognize the deceptive Catholic teachings embedded in the movie as well as to appreciate more fully the biblical meaning of Christ’s sufferings and death.


Posted By GODLOVER to FOR THE GOD LOVER (JESUS CHRIST) at 4/26/2009 10:26:00 PM

SUDAH CUKUP?

June 20, 2009
Sekelompok orang kristiani Amerika mengunjungi seorang pendeta di
Kolkata (dulu: Kalkuta-Red), India. Mereka ingin melihat bagaimana ia
melayani penduduk miskin di daerah kumuh. Selang beberapa hari,
mereka prihatin melihat sang pendeta setiap hari mengayuh sepeda
menyusuri kota yang panas dan berdebu. Di akhir kunjungan, mereka
ingin membelikannya mobil bekas. Namun, sang pendeta menolak rencana
itu. Mengapa? Ia berkata, “Lebih baik uang sebanyak itu kita pakai
untuk melayani orang miskin. Hidup saya sudah cukup nyaman.”

Rasa cukup itu relatif. Paulus merasa berkecukupan “asal ada makanan
dan pakaian” (ayat 8); sebaliknya, guru-guru palsu di Efesus selalu
merasa kekurangan. Mereka sampai memanfaatkan pelayanan ibadah
sebagai alat pencari keuntungan (ayat 5). Rasa cukup muncul dari cara
orang memandang hidup. Orang yang gandrung mengumpulkan harta baru
puas jika sudah punya segalanya. Padahal harta tak akan habis
dikejar. Akibatnya, ia selalu merasa kekurangan. Sebaliknya, orang
yang sadar bahwa harta itu fana, tak bisa dibawa mati, akan mencari
yang lebih bernilai kekal. Baginya mencari Tuhan dan menaati
perintah-Nya lebih utama dari mengumpulkan harta. Ini membuatnya
merasa cukup dengan apa yang ada.

Adakah sebuah benda yang sangat ingin Anda miliki akhir-akhir ini?
Benarkah Anda sangat memerlukannya atau sekadar ingin punya? Bisakah
Anda hidup bahagia tanpanya? Memiliki harta benda tidaklah salah,
tetapi jangan biarkan ia memiliki Anda. Jangan sampai kepuasan dan
kebahagiaan hidup Anda ditentukan olehnya –JTI

ORANG MISKIN BUKANLAH MEREKA
YANG TAK PUNYA BANYAK HARTA
MELAINKAN MEREKA YANG SELALU MERASA BERKEKURANGAN


Posted By GODLOVER to FOR THE GOD LOVER (JESUS CHRIST) at 6/10/2009 08:19:00 AM

Wed Jun 10, 2009 1:20 am
GODLOVER <thegodreporter@gmail.com>

thegodreporter@gmail.com
Send Email Send Email

Malaikat Tuhan (SPGI 2002)

June 20, 2009

Shallom semuanya,

Jakarta, 5 Juli 2002
Saudara saya menelepon saya, mengabarkan ttg kakaknya (seorang hamba Tuhan)
yang mengikuti SPGI (Seminar Pertumbuhan Gereja Indonesia) di Surabaya.
Kakaknya melihat 7 malaikat menari di atas panggung saat pujian penyembahan.
“Bagus ya..” hanya itu kalimat yang keluar dari kami.

Sejujurnya, waktu itu saya menanggapi dengan setengah hati. Saya pikir, bisa
saja hal semacam itu terjadi karena angan-angan manusia. Meskipun saya
mengimani hal-hal semacam ini banyak dan terus terjadi sampai saat ini.
Karena Allah begitu kasih kepada manusia dan menyatakan Hadirat dam KuasaNya
di tengah kita.

Jakarta, 8 Juli 2002
Saya dan teman-teman sedang sibuk belajar, bersiap menghadapai ujian SOM
Advanced (School of Ministry) di salah satu gedung di Sudirman. Tiba-tiba
(seperti yang diceritakan Stefani) salah seorang teman kami menunjukkan
sebuah photo.

Photo itu dalam ukuran besar dan bagus sekali; memperlihatkan dengan jelas 7
malaikat di atas panggung. Spontan, saya tersentak dan teringat dengan
obrolan telepon saya dengan saudara saya. Hati saya melonjak. Tuhan begitu
dahsyat!

Photo ini adalah jawaban atas ketidakpercayaan saya atas kabar baik yang
telah disampaikan saudara saya. Tuhan ampuni saya. Pada saat yang sama saya
merasa harus lebih sungguh-sungguh lagi meresponi setiap kabar baik dari
Tuhan. Sekecil apa pun juga.

Teman-teman,
Photo ini bukan untuk nama seseorang, kelompok atau gereja tertentu. Semua
ini adalah untuk Kemuliaan bagi Tuhan. Kalau toh semua cerita dan photo ini
adalah rekayasa. Apalah artinya semua itu.
Sayang hasil scan yang saya dapatkan kurang begitu jelas. Seandainya saya
bisa meminjam photo asli tersebut dan men-scan ulang, saya akan bagikan
kepada temen-temen.

Hanya bagi Dia…
Pujian, Hormat, Kuasa dan Kemuliaan…
Sampai selama-lamanya

Maju terus dalam Tuhan…

Tuhan memberkati…

Popo Kurniawan

DISEMBUHKAN DARI TUMOR OTAK

June 20, 2009

Nama saya Sudung Simbolon,  ayah dari Yosep Simbolon (19 tahun). Kami sekeluarga berjemaat di salah satu gereja di Bekasi dan Yosep aktif melayani dalam bidang musik di gereja.

Pada suatu hari di akhir tahun 2003, saat masih duduk di kelas 2 STM, tiba-tiba Yosep merasakan kepalanya begitu sakit sampai ia menarik-narik rambutnya untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya….

Kemudian, ia membaringkan dirinya di kamar dan tidak dapat  bangun dari tempat tidur sama sekali.  Ia segera dibawa ke klinik terdekat dan  dirawat selama 1 minggu. Tidak banyak kemajuan yang terjadi. Ia terus menerus merasa kesakitan pada kepalanya. Akhirnya, dokter memberikan surat pengantar ke RS yang lebih besar untuk menjalani pemeriksaan CT Scan. Hasil CT Scan menyatakan bahwa Yosep menderita sakit tumor otak.

Selama di rumah keadaan Yosep semakin parah. Ia hanya terbaring saja bagaikan mayat hidup. Saya, istri dan ketiga anak saya yang lain tiada henti-hentinya berdoa agar Tuhan campur tangan. Tuhan menjawab doa kami. Ketika kami membawanya berobat kembali, maka ia mengalami banyak sekali kemajuan. Ia bisa duduk dan melakukan aktivitas normal seperti biasa.  Bahkan akhirnya ia bisa bersekolah kembali. Selama 2 tahun sakitnya tidak pernah kambuh dan ia tidak pernah merasa ada kelainan dalam tubuhnya.

Pada tanggal 18 Desember 2005, suatu peristiwa yang mengejutkan terjadi. Yosep terjatuh dari ketinggian 3 meter ketika sedang membersihkan bak penampungan air. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Tetapi, pada tanggal 24 Desember 2005, sehabis mandi, Yosep tidak mampu memakai pakaiannya sendiri dan langsung jatuh rebah di atas tikar. Kami membawanya ke RS terdekat di Bekasi. Pada hari ke 3, ketika ia mencoba turun dari tempat tidurnya untuk pemeriksaan rontgen, tiba-tiba tubuhnya merosot ke lantai seolah-olah tidak memiliki kekuatan lagi. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter saraf mendapati bahwa tubuh sebelah kanan Yosep telah menjadi lumpuh. Dokter mengatakan Yosep mengalami kelumpuhan karena tumor di kepalanya sudah menebal dan melebar. Harapan hidup bagi Yosep begitu tipis.

Saya memutuskan untuk membawa Yosep pulang. Saat itu keadaannya sangat memprihatinkan. Yosep tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat bicara, tidak dapat mendengar dan tidak bisa melihat. Istri saya sampai pingsan melihat keadaannya. Akhirnya saya dan seluruh keluarga terus berdoa agar Tuhan menolong dia. Tuhan mendengarkan doa kami. Yosep mulai mengalami perubahan walau hanya sedikit.

Pada bulan Januari 2006, seorang sahabat bersama dengan hamba-hamba Tuhan dari KPPI datang menjenguk Yosep dan berdoa baginya. Pengharapan kami bangkit saat mendengar tentang adanya acara KPPI (Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi) di Pancoran. Kami pun hadir di KPPI untuk pertama kalinya pada hari Kamis, 12 Januari 2006.  Yosep harus dibopong karena badannya sangat lemah. Di sepanjang perjalanan ia mengerang kesakitan. Setiba di tempat kebaktian, dengan dibantu 4 orang, Yosep dibaringkan di lantai dengan beralaskan tikar. Kebaktian pun dimulai, saya merasakan sukacita yang luar biasa sepanjang acara. Saat doa kesembuhan, Yosep didoakan oleh 2 orang hamba Tuhan dan mujizat pun terjadi. Keesokan harinya, Yosep sudah bisa mengangkat tangan dan kakinya yang lumpuh. Kami sangat bersukacita.

Dua minggu kemudian kami datang kembali ke KPPI untuk kedua kalinya. Yosep masih harus dibopong karena lumpuh dan buta. Ia juga terus mengerang kesakitan. Malam itu Tuhan Yesus kembali bekerja. Keesokan harinya, Yosep mulai bisa melihat, sekalipun belum terlalu jelas. Ia juga mulai bisa  makan dan minum sendiri. Kemajuannya sangat pesat.

Kamis, 09 Februari 2006 kami kembali datang ke KPPI untuk ketiga kalinya. Kondisi Yosep sudah amat baik. Ia tidak lagi harus dibopong. Sepanjang kebaktian ia dapat duduk dengan baik. Ketika kembali ke rumah, kami sekeluarga begitu terkejut ketika Yosep memainkan gitar dan mengajak kami memuji Tuhan. Kami menangis terharu atas perubahan yang terjadi. Kami semua begitu terharu.  Sungguh luar biasa apa yang Tuhan kerjakan pada Yosep. Kamis, 23 Februari 2006, kami datang kembali ke acara KPPI untuk ke empat kalinya. Saat itu Yosep bisa jalan sendiri tanpa dipegang. Saat memuji-muji Tuhan dia bisa bertepuk tangan. Saat didoakan matanya juga semakin membaik. Sepulang dari KPPI beberapa hari kemudian Yosep sudah dapat melihat dengan jelas.

Yosep kini benar-benar sembuh dan normal serta kembali aktif melayani Tuhan di bidang musik.  Saya sangat bersyukur atas mujizat yang Tuhan berikan padanya. Tubuh yang lumpuh, mata yang buta, tumor di otak telah disembuhkan Tuhan!  Allah sungguh menjawab doa-doa anakNya.

KETAATAN

June 20, 2009

“Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan
berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta
kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa.” (Keluaran 19:5)

“Sebab sungguh Tuhan akan memberkati engkau … asal saja engkau
mendengarkan baik-baik suara Tuhan, Allahmu.” (Ulangan 15:4, 5)

“Karena iman Abraham taat.” (Ibrani 11:8)

“Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan
sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan
yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” (Ibrani 5:8, 9)

Dalam Alkitab, ketaatan merupakan salah satu yang paling penting
dalam kehidupan orang Kristen. Karena ketidaktaatanlah manusia tidak
diperkenan Allah dan kehilangan kehidupan Allah. Hanya dengan
ketaatanlah manusia dapat diperkenan Allah dan dapat kembali
menikmati kehidupan itu (1). Allah tidak mungkin senang dengan
orang-orang yang tidak taat. Ia juga tidak dapat memberikan
berkat-Nya kepada mereka. “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan
firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi
harta kesayangan-Ku.” Ini merupakan prinsip-prinsip kekal dan hanya
dengan mengikuti prinsip inilah kita dapat diperkenan Allah serta
menikmati berkat-berkat-Nya.

Kita melihat ketaatan ini di dalam Tuhan Yesus. Ia mengatakan,
“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam
kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam
kasih-Nya.” Ia berada di dalam kasih Bapa, tetapi Ia dapat tetap
tinggal di dalam kasih itu hanya apabila Ia taat. Ia mengatakan
bahwa demikian juga halnya dengan kita, satu-satunya jalan untuk
dapat tetap tinggal di dalam kasih-Nya, kita harus menuruti
perintah-Nya. Ia datang untuk membukakan bagi kita jalan kembali
kepada Allah; jalan ini adalah jalan ketaatan, hanya orang yang
beriman kepada Yesus dan hidup secara demikian, dapat sampai kepada
Allah (2).

Betapa indahnya hubungan antara ketaatan Yesus dan ketaatan kita,
seperti dinyatakan di dalam Ibrani 5: Ia “belajar taat … dan …
menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat
kepada-Nya”. Inilah ikatan persatuan antara Yesus dan umat-Nya,
titik persesuaian dan persatuan batin. Ia taat kepada Bapa; dan
mereka taat kepada Dia. Ia dan mereka sama-sama taat. Ketaatan-Nya
bukan hanya menebus, tetapi juga menghapuskan ketidaktaatan mereka.
Ia dan mereka memunyai satu tanda yang sama — ketaatan kepada Allah
(3).

Ketaatan ini merupakan ciri kehidupan yang beriman. Hal itu
dinamakan ketaatan karena iman (4). Di dunia ini, tidak ada hal lain
selain iman yang dapat mendorong manusia untuk bekerja –
kepercayaan akan adanya keuntungan atau sukacita merupakan rahasia
yang menyebabkan orang bekerja. “Karena iman, Abraham taat ketika ia
dipanggil untuk berangkat.” Saya akan bekerja sesuai dengan
kepercayaan saya. Iman atau kepercayaan bahwa Yesus membebaskan saya
dari kuasa dosa dan menjadikan saya berlayak bagi keadaan itu,
memiliki kuasa yang sangat besar untuk menjadikan saya taat. Percaya
akan berkat berlimpahan yang diberikan oleh Bapa kepada yang taat,
percaya akan perjanjian kasih dan kehadiran Allah, dan percaya akan
kepenuhan Roh yang terjadi melalui hal ini; semua itu menguatkan
ketaatan kita (5).

Kuasa iman, seperti juga ketaatan, terutama terletak di dalam
persekutuan pribadi dengan Allah yang hidup. Di dalam bahasa Ibrani,
untuk menyatakan “suara yang taat” dan “suara yang mendengarkan”,
dipergunakan satu kata yang sama. Mendengarkan dengan benar
merupakan persiapan untuk taat. Saya mengetahui kehendak Allah bukan
dari kata-kata manusia atau dari sebuah buku, tetapi dari Allah
sendiri — yaitu pada saat saya mendengar suara Allah — saya
benar-benar akan memercayai apa yang dijanjikan dan melaksanakan apa
yang diperintahkan.

Roh Kudus merupakan suara Allah; apabila kita mendengar suara yang
hidup itu berkata-kata, maka mudahlah bagi kita untuk taat (6).
Marilah kita dengan tenang menantikan Allah, dan membukakan jiwa
kita di hadapan-Nya sehingga Ia dapat berkata-kata melalui Roh-Nya.
Apabila di dalam pembacaan Alkitab dan di dalam doa kita belajar
menantikan Allah sehingga kita dapat mengatakan “Allah telah
mengatakan hal ini kepada saya, Ia telah memberikan janji ini pada
saya dan telah memerintahkan hal ini” — maka kita akan menaatinya.
“Mendengarkan suara-Nya” dengan sungguh-sungguh dan rajin, pasti
menimbulkan ketaatan.

Bagi seorang pelayan, seorang prajurit, seorang anak, seorang warga
negara, ketaatan itu mutlak diperlukan dan merupakan ciri utama
ketulusan hati. Apakah Allah yang hidup dan mulia itu melihat
ketaatan di dalam kita? (7) Kiranya ketaatan yang benar disertai
sukacita menjadi ciri dari kesungguhan persekutuan kita dengan Anak
Allah, yang ketaatan-Nya menjadi kehidupan kita.

Ya, Bapa, yang di dalam Kristus menjadikan kami anak-anak-Mu, di
dalam Dia Engkau menjadikan kami anak-anak-Mu yang taat sebagaimana
Dia juga taat. Kiranya Roh Kudus menjadikan ketaatan Yesus itu
sangat mulia dan berkuasa di dalam kami, sehingga ketaatan itu
menjadi sukacita yang terbesar di dalam kehidupan kami. Ajarlah
kami, supaya di dalam setiap hal, hanya berusaha mengetahui dan
kemudian melakukan apa yang Engkau inginkan. Amin.

Untuk menjalankan kehidupan yang taat, diperlukan hal-hal berikut
ini.

1. Penyerahan yang pasti.
Di dalam setiap persoalan, saya tidak boleh lagi bertanya,
“Apakah saya akan taat atau tidak, haruskah saya taat atau
dapatkah saya taat?” Tidak, seharusnya hal itu tidak perlu
ditanyakan lagi, sehingga yang saya ketahui hanyalah bahwa saya
harus taat. Orang yang memiliki sifat demikian dan yang
menganggap ketaatan sebagai sesuatu yang berdiri teguh, akan
mudah taat — ya, di dalamnya ia benar-benar merasakan sukacita
yang besar.

2. Mengetahui kehendak Allah melalui Roh.
Jangan mengira bahwa karena Saudara mengetahui beberapa hal di
dalam Alkitab, Saudara mengetahui kehendak Allah. Hal mengetahui
kehendak Allah merupakan sesuatu yang bersifat rohani; biarlah
Roh Kudus menyatakan kehendak Allah itu kepada Saudara.

3. Melaksanakan segala hal yang kita ketahui kebenarannya.
Dengan bekerja, manusia belajar: hal mengerjakan apa yang benar
itu mengajarkan manusia untuk taat. Apa yang kepada Saudara
dinyatakan benar oleh firman, atau oleh hati nurani Saudara atau
oleh Roh, kerjakanlah benar-benar. Hal itu akan menolong
membentuk suatu kebiasaan yang suci, dan merupakan suatu latihan
untuk kelak memperoleh kuasa dan pengetahuan yang lebih banyak.
Saudara-Saudara seiman, lakukanlah apa yang benar demi ketaatan
kepada Allah, maka Saudara akan diberkati.

4. Percaya akan kuasa Kristus.
Saudara memiliki kuasa untuk taat; yakinlah akan hal ini.
Meskipun Saudara tidak merasakannya, tetapi karena iman, Saudara
memilikinya di dalam Kristus, Tuhan Saudara.

5. Berkat-berkat ketaatan.
Hal ini mempersatukan kita dengan Allah kita. Hal ini
menyukakan-Nya dan dikasihi-Nya; hal ini menguatkan kehidupan
kita dan mendatangkan berkat surgawi ke dalam hati kita.

Catatan:
1) Roma 5:19; 6:16; 1 Petrus 1:2, 14, 22
2) Kejadian 22:17-18; 26:4-5; I Samuel 15:22; Yohanes 15:10
3) Roma 6:17 ; 2 Korintus 10:5; Filipi 2:8
4) Kisah para Rasul 6:7; Roma 1:5; 16:26
5) Ulangan 28:1; Yesaya 63:7-9; Yohanes 14:11, 15, 23; Kisah Para
Rasul 5:32
6) Kejadian 12:1, 4; 31:13, 16; Matius 14:28; Lukas 5:5; Yohanes
10:4, 27
7) Maleakhi 1:6; Matius 7:21

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Membina Iman
Judul asli buku: The New Life
Penulis: Andrew Murray
Penerjemah: Eviyanti Agus dan Pauline Tiendas-Iskandar
Penerbit: Penerbit Kalam Hidup, Bandung 1980


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.